Dering telepon sore itu membuyarkan konsentrasi Putri yang sedang asyik membaca buku kesukaannya. Dengan enggan, ia beranjak dari tempat
duduknya dan mengangkat gagang telepon.
"Hallo selamat sore" sapa Putri dengan bemalas-malasan.
"Hallo
juga, terdengar suara balasan dari pesawat telepon.
"Ada
yang dapat saya bantu?" tanya Putri
basa-basi.
"Bisakah
saya bicara dengan Putri?" sahut
si penelepon dengan suara kalem.
"Em...maaf...ya,
sepertinya Anda salah sambung! Di
sini tidak ada yang namanya Putri," ujar Putri sewot.
Dengan terburu-buru ia meletakkan gagang
telepon.
Dengan
perasaan jengkel
ia berjalan ke kamarnya. Tak lama kemudian diraih buku kesukaannya dan mulailah ia mengatur posisi duduk yang nyaman.
Lalu Putri tampak asyik membaca buku itu. Untaian kata demi kata dalam lembaran buku itu sungguh memukau hatinya, sehingga ia benar-benar terlarut dibawanya.
Tiba-tiba,
"Kring....kring!"
Telepon
kembali mengejutkan Putri yang sedang asyik membaca buku
itu.
"Kring"
Sambil menggumpat akhirnya ia mengangkat juga gagang telepon itu.
"Hallo" ucapnya dengan nada suara agak marah.
"Ya,
hallo .. apakah betul ini nomor 351948?"
"Sialan,
dia lagi yang menelepon?" "Gila benar 'tuh cowok, sudah
dibilang salah sambung, masih tetep nekat,
maunya apa sich?" kata Putri
dalam hati.
"Ya
benar, ada yang dapat saya bantu?"
Kali ini ia bicara jujur.
"Apakah
saya bisa bicara dengan Putri,.. Margareta
Putri Ayuningtyas? "
"Ya,
ini saya sendiri? "
"Saya
Nico...Nicolaus Ari Sudarsono!"
"Ya Tuhan,
ternyata Nico! kenalanku sewaktu aku ikut kegiatan temu mudika beberapa tahun yang lalu." bisik Putri dalam hati. Ia kembali bertanya kepada si penelepon,
"Ada apa, ya?"
tanya Putri dengan suara yang dibuat sedikit
tenang untuk menutupi segala kegugupannya.
"Apakah
aku tidak mengganggumu?"
"Nggak kok, sama
sekali nggak. Ada apa sich?"
"Kapan
kamu akan ikut pertemuan mudika
CuBengTuLing (Curup, Bengkulu, Lubuk Lingau, dan Tugu Mulyo)? Aku dan teman-teman mempunyai rencana mengadakan kegiatan Mudika bersama pada bulan
Juli depan." ucap Nico serius.
"Oh...ya ? Kebetulan
nich kami juga sedang liburan"
"Baiklah...Put,
'ma kasih atas waktunya! Kapan-kapan aku
akan menghubungi kamu lagi." Suara itu segera menghilang dari pendengaran
Putri.
Dengan
hati-hati diletakkannya gagang telepon itu
dan sejenak ia menenangkan diri.
Dengan senyum simpul ia bergumam dalam
hatinya, "Nico adalah cowok yang
perhatian, baik, sabar dan tidak bayak
tingkah. " Nico adalah ketua Mudika
Paroki St. Petrus, Bengkulu sedangkan Putri
adalah bendahara Paroki St. Stephanus Martir, Curup. Mereka pernah berjumpa sewaktu acara "Temu Akbar Mudika CuBengTuLing".
Pertemuan mereka sangat singkat, hanya 4 hari saja dan itupun tidak member
banyak kesempatan untuk menggobrol. Sejak itu mereka
tidak pernah bertemu maupun saling memberi
kabar, maklum mereka sibuk dengan
kuliah.
Beberapa bulan
kemudian, Mudika CuBengTuLing kembali mengadakan Pertemuan Rutin bersama. Jenis acaranya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kali ini kegiatannya dikemas begitu menarik.
Lokasi
pertemuan kali ini dikelilingi oleh
pegunungan. Tak terasa hawa dingin dari pegunungan mulai berkurang, karena sang fajar
telah memancarkan kehangatannya di ufuk Timur. Rembulan yang mulai malu menampakkan wajahnya pun secara berlahan
meninggalkan mereka.
Pagi-pagi
Nico sudah bangun, ia melangkahkan
kakinya menuju tempat yang lebih
tinggi untuk menyambut matahari.
Tampak dari kejauhan seorang wanita cantik
dengan rambut terurai sebahu datang
menghampirinya yang sedang termangu menatap indahnya matahari terbit.
"Selamat
pagi Nico! Cepat sekali kamu bangun?" tanya Putri dengan perasaan ragu.
"E...kamu Put,
selamat pagi juga! Mana yang lain?" "Mereka
belum bangun Nic! Capai kali? Ngomong-ngomong, sedang ngapain kamu
sendirian di sini Nic," tanya Putri ingin tahu.
Nico tidak segera menjawab, ia menoleh ke arah Putri dan tersenyum. Tindakan Rian
ini membuat Putri semakin penasaran. Lalu
Putri bertanya lagi, "Nico, sedang ngapain sich kamu di sini?
"Tidak
ada apa-apa kok Put, aku hanya ingin melihat
indahnya matahari terbit?" Jawaban Nico mencoba meyakinkan
Putri yang terlihat masih belum mengerti. Tak lama
kemudian, keduanya turun dan bergabung
dengan rombongan yang terlihat masih beres-beres alas tidur.
Pagi
itu mereka meninggalkan tempat pertemuan. Dan
suatu kebetulan bahwa Rian
mengendarai sepeda motor. Dengan malu‑malu, Nico mendekati Putri dan menawarkan
jasa kepada Putri, "Put, ayo kuantar, kebetulan hari ini
aku mau Curup, ada sedikit urusan di
sana." Lagi-lagi Putri kelihatan
bingung untuk menjawab ajakan Nico.
Namun dengan perasaan tak menentu, akhirya
ia mengangguk. Sepanjang perjalanan menuju
Curup, Putri tidak banyak bicara.
Rasanya lidahnya melekat pada langit-langit
mulutnya.
"Udara
panas begini, yuk kita minum es di warung
depan itu," ajakan Nico membuyarkan pikiran Putri yang entah terbang ke mana. Putri tidak mampu menolak ajakan Nico, ia hanya mampu mengangguk dan
mengikuti Nico.
Putri
tampak mulai mampu menguasai diri. Hari itu merupakan saat terindah bagi Putri. Mereka saling bertukar pikiran mengenai banyak hal. Ternyata, mereka memiliki banyak kesamaan.
Sekali
lagi Putri kesulitan mengendalikan debar jantungnya yang berdetak kencang saat bersama
Nico. Beberapa jam kemudian mereka sampai di depan rumah Putri. Putri segera turun dari motor dan meminta Nico singgah sebentar.
Namun, Nico menolak dan ia memanggil
Putri agar sedikit mendekat lalu ia berkata, "Put, kita tidak bisa seperti ini lagi!" Nico
tidak melanjutkan perkataannya.
"Memangnya
mengapa, Nic?" Dengan nada
berat Nico menjawab,
"Karena mulai bulan depan aku masuk
biara." Mendengar pernyataan Nico, Putri tersentak kaget. Sedangkan Nico segera melanjutkan perjalanannya
setelah berjabatan tangan dengan Putri.
"Ya,
Tuhan! Baru saja aku merasakan manisnya cinta
yang mekar di hatiku, tetapi Engkau malah
memanggil dia. Mengapa jadi begini? Tuhan salahkah aku mencintainya? Atau aku harus
menahan cinta yang bersemi di hatiku ini atau
harus kukejar dia sampai kudapat? Tuhan aku tahu dia milik-Mu. Maka, kurelakan
dia untuk-Mu. Walaupun aku tahu cinta
itu perlu pengorbanan. Cinta harus melibatkan segala
rasa.
Tetapi aku sadar, semuanya ini bagian
dari kebahagiaanku! Aku tidak mungkin
mampu bersaing dengan-Mu
memperebutkan dia." Kata
terakhirnya adalah "Nico, selamat
berjuang untuk bersikap setia kepada
Dia yang telah memanggilmu dan semoga
engkau dapat menemukan-Nya dalam
perjalanan panggilanmu yang engkau pilih ini. Aku mendoakanmu
selalu!"
3 komentar:
bagus bro lanjutkan
ya gitu dap tambah2 inspirasi buat aq dap
dap maju terus
Posting Komentar