Kamis, 04 Oktober 2012

Cinta Pertama Putri



Dering telepon sore itu membuyarkan konsentrasi Putri yang sedang asyik membaca buku kesukaannya. Dengan enggan, ia beranjak dari tempat duduknya dan mengangkat gagang telepon.
"Hallo selamat sore" sapa Putri dengan bemalas-malasan.
"Hallo juga, terdengar suara balasan dari pesawat telepon.
"Ada yang dapat saya bantu?" tanya Putri basa-basi.
"Bisakah saya bicara dengan Putri?" sahut si penelepon dengan suara kalem.
"Em...maaf...ya, sepertinya Anda salah sambung! Di sini tidak ada yang namanya Putri," ujar Putri sewot. Dengan terburu-buru ia meletakkan gagang telepon.
Dengan perasaan jengkel ia berjalan ke kamarnya. Tak lama kemudian diraih buku kesukaannya dan mulailah ia mengatur posisi duduk yang nyaman. Lalu Putri tampak asyik membaca buku itu. Untaian kata demi kata dalam lembaran buku itu sungguh memukau hatinya, sehingga ia benar-benar terlarut dibawanya.
Tiba-tiba, "Kring....kring!"
Telepon kembali mengejutkan Putri yang sedang asyik membaca buku itu.
"Kring" Sambil menggumpat akhirnya ia mengangkat juga gagang telepon itu. "Hallo" ucapnya dengan nada suara agak marah.
"Ya, hallo .. apakah betul ini nomor 351948?"
"Sialan, dia lagi yang menelepon?" "Gila benar 'tuh cowok, sudah dibilang salah sambung, masih tetep nekat, maunya apa sich?" kata Putri dalam hati.
"Ya benar, ada yang dapat saya bantu?" Kali ini ia bicara jujur.
"Apakah saya bisa bicara dengan Putri,.. Margareta Putri Ayuningtyas? "
"Ya, ini saya sendiri? "
"Saya Nico...Nicolaus Ari Sudarsono!"
"Ya Tuhan, ternyata Nico! kenalanku sewaktu aku ikut kegiatan temu mudika beberapa tahun yang lalu." bisik Putri dalam hati. Ia kembali bertanya kepada si penelepon,
"Ada apa, ya?" tanya Putri dengan suara yang dibuat sedikit tenang untuk menutupi segala kegugupannya.
"Apakah aku tidak mengganggumu?"
"Nggak kok, sama sekali nggak. Ada apa sich?"
"Kapan kamu akan ikut pertemuan mudika CuBengTuLing (Curup, Bengkulu, Lubuk Lingau, dan Tugu Mulyo)? Aku dan teman-teman mempunyai rencana mengadakan kegiatan Mudika bersama pada bulan Juli depan." ucap Nico serius.
"Oh...ya ? Kebetulan nich kami juga sedang liburan"
"Baiklah...Put, 'ma kasih atas waktunya! Kapan-kapan aku akan menghubungi kamu lagi." Suara itu segera menghilang dari pendengaran Putri.
Dengan hati-hati diletakkannya gagang telepon itu dan sejenak ia menenangkan diri. Dengan senyum simpul ia bergumam dalam hatinya, "Nico adalah cowok yang perhatian, baik, sabar dan tidak bayak tingkah. " Nico adalah ketua Mudika Paroki St. Petrus, Bengkulu sedangkan Putri adalah bendahara Paroki St. Stephanus Martir, Curup. Mereka pernah berjumpa sewaktu acara "Temu Akbar Mudika CuBengTuLing". Pertemuan mereka sangat singkat, hanya 4 hari saja dan itupun tidak member banyak kesempatan untuk menggobrol. Sejak itu mereka tidak pernah bertemu maupun saling memberi kabar, maklum mereka sibuk dengan kuliah.
Beberapa bulan kemudian, Mudika CuBengTuLing kembali mengadakan Pertemuan Rutin bersama. Jenis acaranya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kali ini kegiatannya dikemas begitu menarik.
Lokasi pertemuan kali ini dikelilingi oleh pegunungan. Tak terasa hawa dingin dari pegunungan mulai berkurang, karena sang fajar telah memancarkan kehangatannya di ufuk Timur. Rembulan yang mulai malu menampakkan wajahnya pun secara berlahan meninggalkan mereka.
Pagi-pagi Nico sudah bangun, ia melangkahkan kakinya menuju tempat yang lebih tinggi untuk menyambut matahari. Tampak dari kejauhan seorang wanita cantik dengan rambut terurai sebahu datang menghampirinya yang sedang termangu menatap indahnya matahari terbit.
"Selamat pagi Nico! Cepat sekali kamu bangun?" tanya Putri dengan perasaan ragu.
"E...kamu Put, selamat pagi juga! Mana yang lain?" "Mereka belum bangun Nic! Capai kali? Ngomong-ngomong, sedang ngapain kamu sendirian di sini Nic," tanya Putri ingin tahu.
Nico tidak segera menjawab, ia menoleh ke arah Putri dan tersenyum. Tindakan Rian ini membuat Putri semakin penasaran. Lalu Putri bertanya lagi, "Nico, sedang ngapain sich kamu di sini?
"Tidak ada apa-apa kok Put, aku hanya ingin melihat indahnya matahari terbit?" Jawaban Nico mencoba meyakinkan Putri yang terlihat masih belum mengerti. Tak lama kemudian, keduanya turun dan bergabung dengan rombongan yang terlihat masih beres-beres alas tidur.
Pagi itu mereka meninggalkan tempat pertemuan. Dan suatu kebetulan bahwa Rian mengendarai sepeda motor. Dengan malu‑malu, Nico mendekati Putri dan menawarkan jasa kepada Putri, "Put, ayo kuantar, kebetulan hari ini aku mau Curup, ada sedikit urusan di sana." Lagi-lagi Putri kelihatan bingung untuk menjawab ajakan Nico. Namun dengan perasaan tak menentu, akhirya ia mengangguk. Sepanjang perjalanan menuju Curup, Putri tidak banyak bicara. Rasanya lidahnya melekat pada langit-langit mulutnya.
"Udara panas begini, yuk kita minum es di warung depan itu," ajakan Nico membuyarkan pikiran Putri yang entah terbang ke mana. Putri tidak mampu menolak ajakan Nico, ia hanya mampu mengangguk dan mengikuti Nico.
Putri tampak mulai mampu menguasai diri. Hari itu merupakan saat terindah bagi Putri. Mereka saling bertukar pikiran mengenai banyak hal. Ternyata, mereka memiliki banyak kesamaan.
Sekali lagi Putri kesulitan mengendalikan debar jantungnya yang berdetak kencang saat bersama Nico. Beberapa jam kemudian mereka sampai di depan rumah Putri. Putri segera turun dari motor dan meminta Nico singgah sebentar. Namun, Nico menolak dan ia memanggil Putri agar sedikit mendekat lalu ia berkata, "Put, kita tidak bisa seperti ini lagi!" Nico tidak melanjutkan perkataannya.
"Memangnya mengapa, Nic?" Dengan nada berat Nico menjawab, "Karena mulai bulan depan aku masuk biara." Mendengar pernyataan Nico, Putri tersentak kaget. Sedangkan Nico segera melanjutkan perjalanannya setelah berjabatan tangan dengan Putri.
"Ya, Tuhan! Baru saja aku merasakan manisnya cinta yang mekar di hatiku, tetapi Engkau malah memanggil dia. Mengapa jadi begini? Tuhan salahkah aku mencintainya? Atau aku harus menahan cinta yang bersemi di hatiku ini atau harus kukejar dia sampai kudapat? Tuhan aku tahu dia milik-Mu. Maka, kurelakan dia untuk-Mu. Walaupun aku tahu cinta itu perlu pengorbanan. Cinta harus melibatkan segala rasa. Tetapi aku sadar, semuanya ini bagian dari kebahagiaanku! Aku tidak mungkin mampu bersaing dengan-Mu memperebutkan dia." Kata terakhirnya adalah "Nico, selamat berjuang untuk bersikap setia kepada Dia yang telah memanggilmu dan semoga engkau dapat menemukan-Nya dalam perjalanan panggilanmu yang engkau pilih ini. Aku mendoakanmu selalu!"

3 komentar:

Anonim mengatakan...

bagus bro lanjutkan

Anonim mengatakan...

ya gitu dap tambah2 inspirasi buat aq dap

Anonim mengatakan...

dap maju terus