Masalah aborsi semakin marak
terjadi. Aborsi praktis menjadi topik hangat untuk diobrolkan. Masalah yang berhubungan
dalam aborsi itulah sebabnya, mengapa aborsi dipermasalahkan.
Kalau misalnya saya
ditanya, apakah bayi yang diaborsi itu bukan manusia? Spontan saya akan
menjawab, mereka manusia sama seperti saya, kamu,
dan manusia pada
umumnya. Sadar atau tidak kalau Anda manusia, bayi-bayi itu juga manusia. Kita semua
pernah tinggal di dalam rahim seorang ibu, sama seperti bayi-bayi korban aborsi itu. Hanya saja kita beruntung kita mendapat kasih sayang dari orangtua, kita dipelihara, diberi kesempatan untuk hidup dan kita tidak mengalami nasib malang karena diaborsi.
Bayi yang
kadang disebut belum manusia itu mengalami nasib yang malang dibandingkan
dengan nasib kita. Bayi-bayi itu dikatakan manusia karena bayi-bayi itu
terbentuk dalam diri manusia, berkat campur tangan Allah. Ia yang
memberi kehidupan dan memberi nilai-nilai luhur sebagai
manusia.
Sebagai manusia yang sama seperti
bayi-bayi korban aborsi itu,
perkenankan saya menyampaikan gugatan, kutukan, dan teriakan minta tolong dari suara bayi-bayi malang
itu.
Secarik surat dari korban aborsi
Surat pertama
Kepada,
Ytc. Mamaku
Mama,
Apakah Mama masih
mengenalku? Maaf
aku menyebutmu Mama karena aku anakmu yang dulu
pernah tinggal di tempat
damai di rahim Mama. Dan engkau adalah Mamaku. Apakah mama juga mencinta aku? Mama pasti terkejut , ya?
setelah mendengar pengakuan dari seorang bocah yang belum pernah ketemu
samasekali dan merasa tidak pernah melahirkannya sebagai anak Mama. Tapi
aku sungguh anak Mama, aku
tidak mengaku-aku kalau Mama sebagai mamaku.
Aku pernah tinggal di dalam rahim Mama walau
hanya beberapa minggu saja! Oh…sungguh menyakitkan perasaan. Aku ingat persisi
hanya beberapa minggu saja aku
tinggal di tempat damai itu. Pasti Mama
sebenarnya juga merasakan kehadiranku sejak pertama aku ada, bukan?
Ma, kehadiranku seharusnya membuat Mama senang, bahagia dan bangga padaku, tetapi aku tidak merasa bahwa Mama saat itu bahagia. Saat itu aku merasa Mama sangat lesu dan tidak memiliki gairah
hidup. Aku kasihan pada Mama, sungguh Ma. Mama sering merenung,
meratap, menyiksa diri dengan tidak makan, bahkan Mama kadang-kadang menangis tanpa sebab. Sebagai seorang anak, aku ikut bersedih
juga melihat Mama sedih. Aku tidak mengerti kenapa terjadi begitu pada Mama. Seolah-olah Mama menyesali
sesuatu yang
terjadi pada diri Mama.
Sementara aku tumbuh kian
membesar, Mama semakin gelisah untuk menutup muka Mama. Aku tetap saja tidak tahu. Setiap hari dan setiap saat Mama hanya mengurung diri di kamar. Karena Mamaku yang tercinta gelisah, akupun ikut gelisah juga. Hatiku mengatakan: “Mama mempunyai masalah yang sangat besar
dan sulit untuk dipecahkan.” Karena kegelisahan Mama, keberadaanku pun menjadi terusik.
Dan Mamaku tidak pernah sekalipun mengungkapkan kegelisahan Mama. Apakah ada hati untuk Mama?
Suatu sore baru saja selepas azan magrib kegelisahanku
terjawab mamaku gelisah, sedih, dan meratap karena kehadiranku yang sangat tidak
diharapkan oleh Mama, betul kan Ma? Saat itu juga Mama mengambil keputusan untuk menyingkirkan aku dari dalam rahim Mamaku. Aku yang wajahnya saja belum
tampak, meski dibunuh, dihancurkan, dan dibuang. Foto macam
apakah yang hendak dipasang pada batu nisan kematianku nanti, Ma?
Sepenggal waktu saja aku harus menjadi jenasah. Kenapa sih Ma, Mama mau membunuh dan menyingkirkan aku? Mengapa Mama diam? Ya, karena mungkin kehadiranku mengganggu Mama dalam segala hal, betul Ma?
Pagi itu, Mama membawaku ketempat pembantaian, di tempat itu sudah
berbaris puluhan wanita bernasib seperti Mama, Mama saat itu tertunduk dan berbaris ikut antrian. Saat itu juga aku sempat membayangkan, berapa bayi sepertiku yang hari itu akan dibantai? Maaf kalau kata-kataku ini
terlalu kasar untuk di dengar, namun demikianlah kata-kata yang pantas aku
ungkapkan untuk mewakili teman-teman senasib dengan aku. Satu per
satu orang seperti Mama masuk ke dalam
ruangan dan hanya beberapa saat saja kemudian keluar dari ruangan
itu; ada yang cemberut, ada pula yang kelihatan berseri-seri. Anehnya, di antara sekian puluh orang
seperti Mama tak satu orang pun yang merasa menyesal. mereka tampak merasa biasa-biasa
saja. Setelah membantai mereka merasa tidak berdosa. Aneh…sungguh aneh peristiwa
itu.
Kini tibalah saat yang
paling ngeri bagiku.
Tibalah giliranku untuk di eksekusi. Sesaat aku sempat mengamat-amati orang yang ada di depan Mama. Aku hanya sekilas
mendengar Mama bertanya tentang biaya dan sebentar
saja urusan itu sudah selesai. Tampaknya Mama memiliki banyak uang, sebab Mama langsung membayar lunas biaya
itu. Oh iya, orang yang tadi bicara dengan Mama jelas kulihat wajahnya yang tertutup kain
putih, ia tidak mirip dengan tukang jagal atau drakula. Saat itu aku
ingat betul kalau Mama terlerrtang di atas tempat tidur yang
empuk, pakaian mama dilepaskan hingga Mama tidak berpakaian lagi dan di
sana banyak orang. Entahlah Ma aku tidak dapat mengenali satu per satunyasebab
saat itu aku sudah dikuasai oleh perasaan takut.
Aku sempat kaget ketika ada sebuah
benda asing di tangan orang yang tadi bicara dengan Mama tiba-tiba dimasukkan ketempat aku bersemayam, sakit Ma
aduhhhhh...sakitittt.
Mama... tolong maa…jangan ma aduh sakittt... Sungguh saat itu aku menjerit kesakitan dan Mama tidak mempedulikan jeritanku. Aku
telah dipaksa untuk meninggalkan tempat damai itu. Aku seharusnya belum siap dan mustahil aku bisa hidup jika
aku meninggalkan tempat itu sekarang dan....entahlah aku tak ingat lagi.
Sampai surat berikutnya ya. Da Mama…
Sayangmu,
Nanda
Sebetulnya, mereka juga menolak jika
hidupnya harus diakhiri secara tidak wajar. Mereka juga merasakan bahwa diperlakukan tidak manusiawi itu sungguh menyakitkan. Mereka memiliki kata hati yang sama dengan manusia pada umumnya, namun suara mereka diabaikan begitu saja. Mereka itu mengatakan bahwa mereka juga rnanusia, sama seperti kita. Apakah mereka baru dikatakan manusia sesudah dilahirkan? Tidak! Sebelum
dilahirkan atau sesudahnya itu mereka adalah manusia. Mengapa dengan semudah itu mereka dibunuh begitu sadisnya?
Surat kedua
KapadaYtc,
Mamaku sayang
Mama, Memang sekarang mama tidak lagi
mengingat peristiwa itu, saat aku dieksekusi. Tetapi di dalam suratku yang kedua
ini, aku ingin mengatakan sesuatu kepada Mama bahwa suasana hatiku dan aku
ingin juga mama mendengarkannya.
Aku merasa yakin bahwa sekarang
keadaan Mama lebih baik? Mama, aku ingin mengatakan tentang hal ini kepada Mama, semua temanku mengatakan
bahwa mereka juga ingin menikmati hidup, mereka ingin bermain-main bersama
mama papanya di tempat
tidur, bermain mobil-mobilan dan boneka
dengan teman-temannya, pokoknya mereka merindukan itu Ma. Mereka ingin melepas canda dan tawa saat Mama menggendongnya, minum susu sambil bermain tangan, dan mereka ingin sekali
dimandikan mamanya. Mereka mengatakan demikian, “Bahkan kalau aku sekarang ada bersama Mama, aku ingin mengajak Mama ke
Ancol, ke Mall, atau bernyanyi di tempat tidur, mendengarkan dongeng sebelum tidur dari mama dan papa.
Ma.... seandainya kami diberi kesempatan untuk hidup, kami pasti
bahagia tinggal bersama Mama dan Papa.
Mama,
Mengapa Mama tidak mau mendengarkan suara jeritanku saat itu, Ma?
Bukankah suara jeritanku hadir di dalam suara hati Mama? Ma...seandainya saja aku diberi kesempatan untuk hidup,
mama pasti akan senang, bahagia, bangga dan sayang padaku.
Ma, memang Mama sudah menolak kehadiranku jauh sebelum
aku lahir. Bahkan setelah aku dieksekusipun aku tidak dikubur
dengan batu nisan sekalipun tanpa foto, tetapi aku bahkan
dicampakkan ke dalam ember dan bersama teman-temanku
yang lain, aku dibungkus kantong plastik kemudian dibuang
ke pembuangan sampah di tempat yang sama sekali belum
pernah aku lihat. Aku dicampur plastik-plastik sampah, busukan
sayuran, sampah-sampah rumah tangga, sampah-sampah kota dan
apa aja
deh Ma. Asal Mama tahu ya...aku manusia. Apakah masih juga bahan manusia?
Sekarang Ma, aku
sangat bahagia tinggal bersama orang yang sangat mencintai aku, aku
bersama dengan temanku yang lain menyebut Yesus. Ia sangat
mencintai kami, kami juga diajak oleh-Nya berkeliling taman yang
sungguh indah mempesona tidak ada di dunia seperti tempat
tinggalku saat ini, Ma.
Apakah Mama tidak ingin merasakan
kebahagiaan tinggal bersama kami, Mma? Aku
pesan Ma, tolong disampaikan kepada teman-teman Mama,
jangan ada lagi yang disusulkan ke tempat kami yang kotor itu....biarkan mereka tumbuh dan berilah mereka
kesempatan hidup seperti layaknya manusia yang lain. Semoga Mama berbahagia da...semoga ketemu
lagi di tempat tinggalku Ma.
Sayangmu,
Nanda
Dengan halus dan sopan,
mereka mengingat apakah suara mereka masih juga tidak
didengarkan. Semoga kita tergugat untuk juga mengatakan bahwa mereka
juga manusia some seperti kita.
Semoga dengan coretan ini kita diingatkan bahwa kita tetap tegas untuk membela
kaum lemah termasuk bayi-bayi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar